Skena anak muda kreatif Bandung, boleh bersiap. Gerakan musik dan budaya bernama Lintas Resonan kembali hadir buat mengguncang peta kreatif Tanah Air. Setelah sukses bikin pecah di edisi perdana Semarang, sekarang giliran Kota Kembang yang bakal jadi tuan rumah dengan penampilan spesial dari supergrup, Portura.
Diinisiasi oleh People of the Right Project, acara yang mengusung tema besar Meretas Batas ini bakal digelar di Bikasoga pada 8 Januari 2026 mendatang. Acara ini bukan sekadar gig biasa, tapi wujud nyata semangat kolektif buat membuka ruang eksperimen suara tanpa sekat genre atau ego.
Portura sendiri merupakan grup yang sengaja dibentuk untuk rangkaian acara Lintas Resonan, yang diisi musisi lintas genre dan generasi seperti Iga Massardi (Barasuara), John Paul Patton alias Coki (Kelomopok Penerbang Roket dan ALI), Fathia Izzati (Reality Club), Bilal Indrajaya, Baskara Putra (Hindia, .Feast), serta Enrico Octaviano (Lomba Sihir). Nantinya, Portura akan membawakan beberapa lagu karya dari masing-masing personel yang diaransemen ulang dengan vibe baru untuk meruntuhkan batas tradisional antar identitas band.
Baca juga: Fokus Karier dan Anak, Jennifer Lopez Masih Belum Berpikir Punya Pasangan Lagi
Pemilihan Bandung sebagai destinasi Lintas Resonan sendiri bukannya tanpa alasan. Kota ini punya jejak ekosistem kreatif yang kuat dan terus melahirkan karya berkualitas. Iksal Harizal dari People of the Right Project menjelaskan bahwa semangat inilah yang ingin dinyalakan kembali.
“Musik dan kreativitas selalu punya cara untuk menyatukan orang, melintasi batas yang kadang tak terlihat dan Bandung punya energi, punya komunitas, dan punya ruang ekspresi. Melalui Lintas Resonan, kami berharap membuka ruang bagi musisi, komunitas, dan penonton untuk berkolaborasi, bereksperimen, dan menyalakan kembali semangat eksplorasi,” katanya.

Nggak cuma Portura, Lintas Resonan edisi Bandung juga ngasih panggung buat talenta lokal seperti band alternatif Alkateri. Selain musik, bakal ada kolaborasi visual artist Arswandaru dan sesi live podcast yang membahas isu ekosistem kreatif setempat.
“Setiap kota punya karakter. Pace hidupnya berbeda-beda dan itu berpengaruh ke musik yang mereka hasilkan, ke bahasa, ke cara mereka menulis lagu. Kota yang lebih slow pace akan menghasilkan suara yang beda dengan kota yang fast pace. Menurut gue itu justru harus dipertahankan, gak perlu ikut ritme Jakarta atau apa yang kelihatan di media,” ujar Enrico Octaviano.

Sementara itu, bagi Iga Massardi, kehadiran Lintas Resonan dan Portura bukan untuk menggurui, tapi justru untuk menyerap energi kreatif dari teman-teman komunitas di daerah. Koneksi antar pelaku seni menjadi poin utama dalam perhelatan ini.
“Harapannya bukan kita yang ngomong paling banyak, tapi kita yang lebih banyak menyerap. Lebih ke get in touch sama komunitas di sana, ngobrol soal apa yang seru di kota mereka. Kalau akhirnya itu jadi pemantik atau semangat buat teman-teman di sana, ya semoga. Tapi yang paling penting buat kita adalah koneksinya,” ujar Iga Massardi.