Film Yang Disebut Nakal Angkat Kisah 21 Hari di Camp, Dibintangi Donny Damara hingga Boris Bokir
Jakartashowbiz.com – Kisah anak-anak dan remaja yang kerap mendapat cap “nakal” akan diangkat ke layar lebar melalui film drama komedi terbaru berjudul Yang Disebut Nakal. Diproduksi oleh DLK Pictures bekerja sama dengan Inhype Pictures, film ini mengajak penonton melihat kehidupan remaja dari sudut pandang yang berbeda, termasuk keresahan mereka yang kerap luput dari perhatian orang dewasa.
Diumumkan pada 21 Oktober 2026, film Yang Disebut Nakal diproduseri oleh Diana Limbong dan Ryan Prasetyo sebagai eksekutif produser. Film ini disutradarai oleh Benni Setiawan dengan memadukan unsur komedi, konflik keluarga, persahabatan, dan perjalanan pendewasaan karakter.
Berbeda dari film remaja yang umumnya menyoroti sosok anak-anak berprestasi atau dianggap baik, Yang Disebut Nakal justru menghadirkan cerita tentang sekelompok anak muda yang sering dinilai berdasarkan perilaku mereka.
Baca Juga: Randy Pangalila jadi Pemeran Utama, Film Begu Ganjang Hadir dengan Genre Horor Berbeda
Di balik label tersebut, tersimpan berbagai persoalan, keresahan, serta keinginan untuk didengar dan dipahami oleh lingkungan sekitar.
21 Hari di Camp Pembinaan Mental, Penuh Konflik dan Kelucuan
Salah satu daya tarik utama film Yang Disebut Nakal terletak pada latar ceritanya, yakni sebuah camp pembinaan mental dan karakter di kawasan terpencil yang dikelilingi alam liar.
Selama 21 hari, puluhan anak yang dicap nakal harus menjalani proses pembinaan dalam lingkungan yang menuntut kedisiplinan. Mereka dihadapkan pada aturan baru, tantangan kehidupan bersama, hingga situasi yang memaksa setiap karakter untuk belajar beradaptasi.
Kehidupan di camp tersebut menjadi titik awal berbagai kejadian yang mempertemukan ego, konflik, persahabatan, dan momen-momen kocak di antara para remaja.

Namun, perjalanan mereka tidak hanya diwarnai humor. Ada pula kepedihan, air mata, dan pergulatan emosional yang menjadi bagian dari proses mengenali diri sendiri.
Melalui situasi tersebut, film ini berusaha menunjukkan bahwa proses pembentukan karakter tidak selalu berjalan mulus. Setiap anak memiliki latar belakang dan persoalan berbeda yang memengaruhi cara mereka bersikap.
Bukan Sekadar Anak Nakal, Ada Cerita yang Belum Terungkap
Eksekutif produser Inhype Pictures, Ryan Prasetyo, mengatakan bahwa tema yang diangkat dalam film ini dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Menurut Ryan, seseorang sering kali dinilai hanya berdasarkan perilaku yang terlihat, tanpa memahami persoalan yang mungkin sedang dihadapinya.
“Kadang kita terlalu cepat menilai seseorang dari perilakunya, tanpa benar-benar mengetahui apa yang sedang dia hadapi. Kami ingin Yang Disebut Nakal menjadi film yang menghibur sekaligus mengajak penonton membuka perspektif, terutama ketika melihat anak-anak dan remaja yang sedang mencari arah,” ujar Ryan Prasetyo.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu gagasan utama yang ingin disampaikan melalui film ini. Label nakal tidak serta-merta menggambarkan keseluruhan kepribadian seorang anak.
Di balik perilaku yang dianggap bermasalah, terdapat kemungkinan persoalan keluarga, kesulitan beradaptasi, kebutuhan akan perhatian, hingga keinginan untuk mendapatkan ruang dalam menyampaikan pendapat.
Film ini pun mengajak penonton untuk tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap anak-anak dan remaja, melainkan berusaha memahami situasi yang membentuk perilaku mereka.
Diana Limbong Ingin Film Ini Dekat dengan Semua Generasi
Produser DLK Pictures, Diana Limbong, mengungkapkan bahwa Yang Disebut Nakal dirancang agar dapat dinikmati oleh penonton dari berbagai generasi.
Menurut Diana, cerita remaja memiliki banyak sisi yang dapat dibicarakan, mulai dari persahabatan, kedisiplinan, hubungan keluarga, hingga kebutuhan mendasar untuk didengarkan.
“Kami melihat ada banyak hal yang bisa dibicarakan melalui cerita remaja, mulai dari persahabatan, kedisiplinan, hubungan keluarga, sampai kebutuhan untuk didengar. Semua itu kami kemas dalam sebuah film yang punya humor dan kehangatan, tetapi tetap memberi ruang untuk merenung,” ungkap Diana Limbong.
Melalui perpaduan drama dan komedi, film ini diharapkan mampu menghadirkan hiburan sekaligus membuka ruang diskusi mengenai hubungan orang tua dan anak.
Persoalan komunikasi antara generasi juga menjadi bagian penting dari cerita. Perbedaan cara pandang antara orang dewasa dan remaja kerap menimbulkan kesalahpahaman, terutama ketika masing-masing pihak merasa tidak dipahami.
Lewat kisah para karakter di camp pembinaan, penonton diajak melihat bagaimana konflik dapat menjadi kesempatan untuk mengenal orang lain secara lebih mendalam.
Benni Setiawan Gabungkan Komedi dan Emosi
Sutradara Benni Setiawan menempatkan keseimbangan antara humor dan emosi sebagai salah satu unsur penting dalam film ini.
Para karakter tidak digambarkan sebagai sosok yang sepenuhnya baik ataupun buruk. Masing-masing memiliki kepribadian, persoalan, dan cara tersendiri dalam menghadapi berbagai tantangan.
“Saya ingin penonton mengenal karakter-karakter ini melalui keseharian mereka. Ada hal yang lucu, ada yang menyebalkan, ada juga yang menyentuh. Justru dari hal-hal kecil seperti itu, kita bisa melihat bahwa setiap orang punya cerita yang tidak selalu terlihat dari luar,” ujar Benni Setiawan.
Pendekatan tersebut membuat kehidupan sehari-hari para remaja menjadi bagian penting dalam membangun cerita. Interaksi antarkarakter tidak hanya menghadirkan kelucuan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana seseorang dapat berubah ketika berada di lingkungan yang berbeda.
Situasi di camp pembinaan menjadi ruang bagi para karakter untuk menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka, memahami orang lain, dan menemukan cara baru dalam menyikapi masalah.
Bertabur Bintang Lintas Generasi
Dari sisi pemain, Yang Disebut Nakal menghadirkan deretan aktor senior, komika, serta aktor muda yang akan menghidupkan dinamika kehidupan para remaja di camp pembinaan.
Film ini dibintangi oleh Donny Damara, Boris Bokir, Aming, El Putra Sarira, Fatih Unru, Giulio Parengkuan, Jeremie Moeremans, Andrew Baret, Richard Derick, dan Rafi Sanjaya.
Kehadiran para pemain lintas generasi tersebut menjadi salah satu daya tarik film, terutama dalam menghadirkan perbedaan karakter dan perspektif di tengah lingkungan yang menuntut para tokohnya untuk hidup bersama.
Perpaduan aktor senior dan pemain muda juga memberi ruang bagi beragam interaksi, mulai dari benturan pemikiran hingga momen kebersamaan yang menghangatkan cerita.
Meski mengusung genre drama komedi remaja, film ini tidak hanya bertumpu pada situasi lucu. Konflik keluarga, persahabatan, kedisiplinan, dan pencarian jati diri menjadi bagian dari perjalanan yang dialami para karakter.
Mengajak Penonton Memahami Remaja dari Sudut Pandang Berbeda
Melalui Yang Disebut Nakal, DLK Pictures dan Inhype Pictures berusaha menghadirkan cerita yang dekat dengan realitas kehidupan anak-anak dan remaja.
Film ini mengingatkan bahwa sebuah label dapat memengaruhi cara seseorang dipandang, bahkan sebelum orang lain mengetahui cerita di balik perilakunya.
Kisah 21 hari di camp pembinaan mental tersebut menjadi gambaran tentang proses menghadapi diri sendiri, memahami orang lain, dan belajar bertanggung jawab.
Penonton tidak hanya diajak tertawa menyaksikan tingkah para karakter, tetapi juga melihat persoalan yang mungkin sering terjadi di lingkungan keluarga maupun kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, Yang Disebut Nakal membawa pesan bahwa setiap anak memiliki cerita yang layak didengar. Memahami mereka membutuhkan lebih dari sekadar memberikan penilaian, tetapi juga kesediaan untuk mendengarkan dan melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
