Juara Kelas Indonesia Resmi Diluncurkan, Indra Bekti Soroti Bakat dan Pendidikan Anak

IMG-20261021-WA0083

JakartaShowbiz.com– Presenter Indra Bekti kembali terlibat dalam program yang dekat dengan dunia anak-anak. Kali ini, ia dipercaya menjadi host Juara Kelas Indonesia, kompetisi antarsiswa kelas 5 Sekolah Dasar (SD) dari berbagai daerah di Indonesia yang menggabungkan unsur pendidikan dan hiburan.

Program garapan Garuda TV tersebut resmi diperkenalkan melalui konferensi pers di Jakarta, Rabu (21/10/2026). Mengusung konsep edutainment, Juara Kelas Indonesia diharapkan menjadi tontonan edukatif sekaligus wadah bagi anak-anak untuk mengasah kemampuan akademik, membangun karakter, dan menunjukkan kepercayaan diri.

Dalam kesempatan tersebut, Indra Bekti mengaku antusias membawakan program yang mengingatkannya pada acara cerdas cermat di televisi saat dirinya masih kecil. Namun, menurutnya, Juara Kelas Indonesia hadir dengan konsep yang lebih modern dan dikemas secara lebih menarik.

Baca Juga: Garuda TV Rayakan HUT ke-3, Dewa 19 Siapkan 10 Lagu dan Kolaborasi Spesial di Mahayuga

“Sebuah acara yang menjadi tolok ukur dari sebuah acara apa ya kalau boleh dibilang, edutainment ya. Dan kemudian juga ini menjadi kembali lagi mengingatkan zaman kita dulu kecil ada di TV sebelah itu ya. Dulu masih kecil nontonnya Cerdas Cermat. Nah, sekarang itu mirip-mirip seperti itu, tapi ini lebih seru karena aku bawain acaranya,” ujar Indra Bekti sambil tertawa.

Ia menilai program tersebut bukan sekadar kompetisi menjawab pertanyaan, tetapi juga menghadirkan unsur hiburan, ketegangan, dan tantangan yang dapat membuat penonton ikut merasakan keseruan selama perlombaan berlangsung.

Menurut Indra, perbedaan Juara Kelas Indonesia dengan kompetisi cerdas cermat lainnya terletak pada format pertanyaan, juri, peserta, hingga tata panggung yang dirancang untuk memberikan pengalaman berbeda.

“Jadi pertanyaan-pertanyaan ini akan lebih seru, akan lebih membuat anak-anak itu punya karakter yang kuat di sini. Jadi bisa menjawab dengan baik, enggak cuma itu saja, tapi mereka juga akan memperlihatkan kemampuan mereka dalam punya showmanship di solo,” katanya.

Indra Bekti Punya Pengalaman Menghibur Anak-Anak

Menjadi host dalam kompetisi yang melibatkan siswa kelas 5 SD tentu memiliki tantangan tersendiri. Terlebih, para peserta harus menghadapi suasana kompetisi sekaligus beradaptasi dengan sorotan kamera dan kehadiran awak media.

Indra mengaku sudah memiliki pengalaman dalam membawakan acara anak-anak sejak dirinya masih muda. Pengalaman tersebut menjadi bekal untuk membangun kedekatan dengan para peserta, termasuk membantu mereka merasa lebih rileks sebelum mengikuti rangkaian kegiatan.

Ia menceritakan bahwa para peserta sempat terlihat tegang ketika berhadapan dengan wartawan. Karena itu, Indra berusaha mencairkan suasana melalui sapaan dan interaksi ringan agar anak-anak lebih nyaman.

“Kebetulan dulu aku waktu masih muda pernah bawain acara anak-anak. Dan saya suka dengan anak-anak sebenarnya,” ungkapnya.

Kedekatan tersebut juga menjadi salah satu modal Indra dalam membawakan Juara Kelas Indonesia. Ia berharap para peserta dapat menikmati setiap tantangan tanpa kehilangan semangat belajar maupun keberanian untuk menunjukkan kemampuan masing-masing.

Indra Bekti Akui Nilai Akademisnya Dulu Biasa Saja

Di balik perannya sebagai pembawa acara kompetisi pendidikan, Indra Bekti justru memiliki cerita menarik tentang pengalaman sekolahnya sendiri. Ia mengaku bukan termasuk siswa yang menonjol dalam bidang akademis ketika masih duduk di bangku SD.

Indra mengatakan, saat kecil dirinya lebih banyak terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan seni, mulai dari membaca puisi, akting, hingga menjadi pembawa acara dalam kegiatan sekolah.

“Dulu sih aku waktu masih kecil secara akademis biasa-biasa saja. Jadi malah ikutannya lebih ke seni,” tuturnya.

Ia bahkan mengungkapkan bahwa nilai rapornya dahulu tidak selalu bagus. Meski demikian, Indra merasa memiliki ketertarikan kuat terhadap dunia hiburan sejak usia dini.

“Secara nilai rapor juga biasa-biasa saja, sempat dapat nilai merah juga,” katanya.

Ketertarikan itu terlihat ketika dirinya ditanya mengenai cita-cita saat masih kecil. Di tengah teman-temannya yang ingin menjadi pilot atau insinyur, Indra justru sudah memiliki keinginan untuk menjadi artis.

“Dari kecil emang udah, jadi berani tampil. Secara akademis ya saya biasa-biasa saja. Tapi aku mungkin di bidang lain, seperti di bidang seni,” lanjutnya.

Pengalaman tersebut membuat Indra menyadari bahwa setiap anak memiliki kelebihan yang berbeda. Menurutnya, kemampuan anak tidak semestinya hanya dinilai dari prestasi akademik, tetapi juga perlu dilihat dari bakat dan potensi lain yang dapat dikembangkan.

Indra Bekti Tak Ingin Memaksakan Anak Ikut Kompetisi

Berbicara mengenai pendidikan, Indra Bekti juga membagikan pandangannya dalam mendampingi kedua anaknya. Ia mengaku memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk mengikuti kegiatan yang mereka sukai, selama tetap mempertimbangkan kebutuhan belajar dan waktu istirahat.

Indra bercerita bahwa anak pertamanya, Dafni, pernah mengikuti kegiatan di KidZania. Sementara itu, anaknya yang lain juga mengikuti kegiatan Bina Vokalia dan menyukai aktivitas bernyanyi.

Meski melihat anak-anaknya memiliki ketertarikan terhadap kegiatan yang melibatkan penampilan, Indra tidak ingin terlalu memaksakan aktivitas tambahan di luar sekolah.

Ia menilai jadwal sekolah anak-anak saat ini cukup panjang, mulai berangkat sekitar pukul 06.00 hingga pulang pukul 16.00. Kondisi tersebut membuat orang tua perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kegiatan sekolah, aktivitas tambahan, waktu belajar, dan kebersamaan keluarga.

“Ya sebenarnya sih saya bebasin mereka. Cuma ada kalau memang kita tanya nih ada kompetisi,” ujar Indra.

Ia juga menyebut salah satu anaknya mengikuti kegiatan menari di sekolah. Namun, menurutnya, keputusan untuk menambah aktivitas di luar sekolah perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan anak.

Bagi Indra, anak-anak tetap perlu mendapatkan dukungan untuk mengembangkan potensi mereka, tanpa mengabaikan hak untuk beristirahat dan menikmati waktu bersama keluarga.

Sebut Pendidikan Anak Zaman Sekarang Berbeda

Indra Bekti turut membandingkan pengalaman bersekolah pada masa kecilnya dengan sistem pendidikan yang dijalani anak-anak saat ini. Menurutnya, terdapat banyak perubahan, baik dari sisi durasi kegiatan belajar maupun materi yang diajarkan.

Ia mencontohkan, ketika masih SD, dirinya biasanya pulang sekolah sekitar pukul 12.00. Sementara itu, anak-anak sekarang memiliki waktu belajar yang lebih panjang dan mendapatkan materi yang lebih beragam, termasuk bahasa Inggris.

“Wah, jauh berbeda ya, lebih bagus maksudnya sekarang ya,” kata Indra.

Meski menilai pendidikan saat ini menawarkan lebih banyak hal, Indra juga menyadari bahwa jadwal yang padat dapat membuat anak merasa lelah. Karena itu, ia memilih untuk mendampingi anak-anaknya dengan memperhatikan kondisi mereka, terutama ketika menghadapi ujian sekolah.

Menurutnya, orang tua tidak cukup hanya meminta anak terus belajar, tetapi juga perlu mendengarkan ketika mereka merasa lelah atau membutuhkan waktu untuk beristirahat.

“Jadi sekarang ya mereka intinya kita menyemangati sekolahnya, apalagi mereka sekolahnya udah lebih panjang daripada kita dulu. Jadi kadang-kadang mereka ada rasa capek, ada rasa apa, ya itu kita harus dengerin,” tuturnya.

Punya Asuransi Pendidikan untuk Anak

Di tengah biaya pendidikan yang semakin menjadi pertimbangan banyak keluarga, Indra Bekti mengungkapkan bahwa dirinya telah menyiapkan perencanaan keuangan untuk pendidikan anak-anaknya.

Ia mengatakan, saat ini dirinya dan keluarga memiliki asuransi pendidikan dengan mekanisme menabung secara rutin setiap bulan. Persiapan tersebut dilakukan agar kebutuhan sekolah anak-anak dapat terpenuhi sesuai jangka waktu yang telah direncanakan.

“Alhamdulillah sih ya saat ini kita ada asuransi untuk pendidikan. Jadi setiap bulannya itu ada kita menabung,” ungkapnya.

Ketika ditanya mengenai cara memilih sekolah yang tepat, Indra menyebut salah satu pertimbangan utama keluarganya adalah lingkungan dan pendidikan agama.

Ia mencontohkan sekolah anak-anaknya yang saat ini menempuh pendidikan di Global Islamic School. Menurutnya, biaya pendidikan memang perlu diperhitungkan, tetapi orang tua juga harus menyesuaikannya dengan kemampuan finansial keluarga.

“Ya tentunya di sini pastinya kita sih melihat-lihat dari segi agamanya dulu. Sekolahnya yang punya dasar agama yang bagus itu kita lihat,” jelas Indra.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa kualitas pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh mahal atau murahnya biaya sekolah. Menurutnya, orang tua perlu memilih lembaga pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak dan kemampuan keluarga.

“Apa pun sekolahnya, di mana pun kita bersekolah, pasti tentunya pemerintah, swasta sudah menyediakan tempat-tempat yang terbaik. Tinggal kita memilih saja mana memang bagus dan terjangkau,” tambahnya.

Juara Kelas Indonesia Siapkan Kompetisi Berbasis Literasi, Numerasi, dan Karakter

Sementara itu, Direktur Operasional Garuda TV, Untung Pranoto, menjelaskan bahwa Juara Kelas Indonesia tidak hanya dirancang untuk menguji kemampuan akademik peserta. Program tersebut juga bertujuan membentuk karakter dan kemampuan sosial anak sejak usia sekolah dasar.

Menurut Untung, pendidikan di tingkat SD menjadi fondasi penting untuk menyiapkan generasi yang mampu memimpin pada masa mendatang. Melalui kompetisi ini, anak-anak diharapkan belajar berinteraksi, bersosialisasi, dan berkompetisi secara sehat.

“Jadi kita pengin bahwa bersama Kemendikdasmen ini membentuk anak-anak kita itu untuk next leader. Jadi gimana mereka itu bisa berinteraksi, bersosialisasi, berkompetisi dengan sehat, akhirnya membentuk mereka ini menjadi leader-leader di masa depan,” ujar Untung.

Ia juga menjelaskan alasan pemilihan siswa kelas 5 SD sebagai peserta kompetisi. Keputusan tersebut didasarkan pada pertimbangan riset dan masukan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Menurut Untung, siswa kelas 5 SD dinilai telah menguasai sebagian besar materi pendidikan dasar, tetapi masih memiliki waktu untuk mengembangkan kemampuan sebelum memasuki kelas 6 dan menghadapi ujian akhir.

“Jadi memang kelas lima itu yang kita ambil standarnya, kan kita mesti berkompetisi itu kan sehat. Akhirnya kita ambil pukul rata berdasarkan riset dari Kemendikdasmen,” jelasnya.

Juara Kelas Indonesia mengusung tiga pilar utama, yakni literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. Ketiganya dikemas melalui permainan dan tantangan interaktif dengan sistem eliminasi yang menghadirkan persaingan di setiap tahap.

Kompetisi ini melibatkan siswa kelas 5 SD dari sekolah negeri maupun swasta di berbagai daerah di Indonesia. Setiap sekolah mengirimkan satu tim yang terdiri atas tiga siswa sebagai perwakilan.

Rangkaian kegiatan mencakup seleksi regional bersama Kemendikdasmen, kedatangan peserta terpilih ke Jakarta, masa karantina, serta kegiatan pendampingan berupa study tour dan mentoring sebelum memasuki berbagai tantangan kompetisi.

Dalam konferensi pers tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq juga menyampaikan harapannya agar para peserta mampu mengembangkan tiga kompetensi penting melalui program ini.

“Diharapkan nanti adik-adik bisa cerdas secara literasi, jago secara numerasi, kuat secara karakter. Nah, itu saya kira tiga kunci keberhasilan adik-adik mengikuti kegiatan Juara Kelas ini,” ujarnya.

Melalui Juara Kelas Indonesia, Garuda TV berupaya menghadirkan tayangan yang menggabungkan pendidikan dan hiburan sekaligus memberikan ruang bagi anak-anak Indonesia untuk mengembangkan kemampuan, keberanian, dan karakter positif. Program ini diharapkan menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan bagi peserta sekaligus tontonan edukatif bagi keluarga di Indonesia.