Jakartashowbiz.com – Grup musik Pendarra memperkenalkan hadir dengan maxi single Semburat. Jika album sebelumnya, Ode Matahari, adalah perjalanan tentang cobaan dan kemenangan, mendaki dan menaklukkan, maka Semburat adalah waktu rehat setelahnya.
“Kami tidak sedang membuktikan apa-apa di sini. Kami sedang merasakan,” ungkap Pendarra.
Baca juga: Olivia Rodrigo Umumkan Album Baru, Bakal Rilis Juni Tahun Ini
Dalam proses kreatifnya, Pendarra menggandeng Petra Sihombing sebagai produser maxi single ini. Bersama Petra, Semburat diarahkan menuju keintiman. Pendekatan ini memperkuat karakter reflektif yang menjadi inti dari rilisan.
Lewat Semburat, Pendarra tidak berbicara dengan suara lantang. Emosi dalam rilisan ini terasa lebih ditahan, lebih hening, seolah memberi ruang bagi pendengar untuk ikut bernapas di antaranya. Tema yang mengalir di dalamnya adalah ketenangan, bukan karena badai telah tiada tetapi karena tak ada lagi kebutuhan untuk melawan angin.

Maxi single ini terdiri dari tiga lagu yaitu Tentang Mimpi Berupa Pelangi, Jemari Bunga yang menghadirkan Reda Gaudiamo dan Jerash Malibu, serta Sepenuh Hati bersama Nostress. Tiga lagu ini tidak dibingkai dalam alur yang linear, namun tumbuh dari pengalaman-pengalaman yang saling bersambung.
“Rasanya kami sudah cukup lama menahan napas. Dengan hadirnya Semburat, akhirnya kami bisa menghirup napas itu kembali sepenuhnya. Setelah tahun yang penuh pergulatan dan perjuangan masing-masing, lagu-lagu ini menjadi ruang untuk pulang ke tempat kami merasa lega, dan menemukan harapan yang pelan tapi pasti tumbuh,” kata mereka.
Baca juga: Mark Lee Akhiri Perjalanan Panjang Bareng NCT, Tulis Pesan Haru untuk Penggemar
Inspirasi Semburat lahir dari hal-hal kecil seperti percakapan yang tertunda, kehilangan yang tak sempat diutarakan, dan perasaan yang tumbuh tanpa perayaan. Pendarra tidak sekadar menceritakan peristiwa-peristiwa itu, tapi mereka menyusunnya ulang, memberi makna baru pada apa yang telah terjadi.
“Kami belajar bahwa cahaya paling murni sering muncul ketika hari belum sepenuhnya terang. Kami ingin mereka yang berjalan bersama kami merasakan keleluasaan, bukan euforia,” ucap Pandarra.