Jakartashowbiz.com – Band rock Fearless makin serius membidik pasar internasional. Mereka sudah memasang target untuk menjalani tur Eropa pada akhir 2026 sebagai langkah nyata memperluas jangkauan musiknya.
Alih-alih langsung membidik panggung besar, Fearless memilih memulai dari venue-venue kecil. Bagi mereka, tampil di gigs intim hingga kafe justru jadi cara paling realistis untuk memperkenalkan musik secara langsung dan membangun koneksi dari bawah.
Baca Juga: Slipknot Hadirkan Musik Eksperimental di Album Baru, Look Outside Your Window
Band yang terbentuk pada 13 Januari 2025 itu memang sejak awal punya mimpi go global. Mereka terinspirasi dari langkah Burgerkill dan Deadsquad yang lebih dulu membuka jalan lewat jaringan mandiri di Eropa. Karena itu, Fearless kini fokus menyusun peta pergerakan yang matang, dimulai dari dua negara yang dianggap paling memungkinkan: Belanda dan Belgia.

“Akhir tahun ini kami punya plan tur Eropa. Kami lihat kayak Burgerkill, Deadsquad, mereka cari link sendiri dengan tur di Eropa,” kata Fathan saat ditemui di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan, Kamis (5/2/2026).
Keseriusan mereka juga terlihat dari pilihan bahasa dalam karya. Fearless konsisten merilis lagu berbahasa Inggris demi menyesuaikan target pasar internasional. Apalagi, mereka sempat menjalin komunikasi awal dengan label global BMG Jerman yang mensyaratkan penggunaan bahasa Inggris.
“Kita memang sengaja buat lagu Inggris karena target kita international. Kita ada pembicaraan lah dengan BMG Jerman, tapi syaratnya harus lagu bahasa Inggris,” jelas Fathan.

Tak hanya soal konsep, urusan teknis pun dipikirkan matang. Fearless mulai menghitung kebutuhan dana, menyusun rencana tampil di berbagai festival dan gigs kecil, hingga mengirimkan materi promosi ke sejumlah promotor di Eropa. Mereka ingin memastikan setiap langkah terukur dan efektif.
“Pertama kita mau tahu dulu bujet kita berapa. Caranya gimana, ya kita tampil di gigs, kafe. Target kita dua saja, Belanda dan Belgia. Sebab itu network yang kita punya saat ini,” ujarnya.

Meski harus berjibaku dengan jarak karena personel tersebar di Indonesia dan Malaysia, semangat mereka tak luntur. Fathan yang menetap di Sarawak mengakui tantangan terbesar bukan hanya soal lokasi, tapi bagaimana membuat musik Fearless dikenal luas.
“Pertama lokasi, karena saya tinggal di Serawak. Tapi saya percaya produknya Fearless, ini sesuatu yang lain. Tantangannya gimana produk kita dikenal di publik,” pungkasnya.