Waspada Banjir dan Tanah Longsor! Cuaca Ekstrem di Jabodetabek Masih akan Berlanjut

Yuri Setiawan
3 Min Read
Ilustrasi cuaca berawan. Foto: Freepik

Jakartashowbiz.comCuaca ekstrem yang terjadi di Jabodetabek hampir sepekan kebelakang sepertinya belum akan berakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi hujan lebat disertai angin kencang masih berpeluang terjadi pada 27 hingga 29 Januari 2026.

“Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan karena dinamika atmosfer kembali menguat pada periode tersebut,” kata Plt. Deputi Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani.

Baca juga: Cuaca Ekstrem, Pemprov DKI Jakarta Terapkan WFH dan Pembelajaran Jarak Jauh Sampai 27 Januari

Atas kondisi tersebut, BMKG mengingatkan potensi bencana turunan yang mungkin terjadi akibat curah hujan yang tinggi. Saat curah hujan tinggi, masyarakat perlu mewaspadai kemungkinan adanya genangan air, tanah longsor, hingga banjir di sejumlah wilayah.

“Hujan yang berlangsung lebih dari tiga jam tanpa henti biasanya menjadi pemicu banjir, genangan, hingga longsor,” tambahnya.

Baca juga: Prakiraan Cuaca BMKG: Jabodetabek Berawan hingga Hujan Ringan Hari Ini

Bukan tanpa sebab, Andri menjelaskan jika potensi hujan lebat disertai petir yang diprediksi terjadi dalam beberapa hari ke depan dikarenakan kondisi atmosfer yang masih sangat dinamis di puncak musim hujan. Dia menyebut bahwa cuaca ekstrem bisa dipicu oleh kombinasi sejumlah faktor global dan regional.

“Saat ini La Nina lemah masih aktif dan ikut memperkuat intensitas hujan. Selain itu, terdapat penguatan Monsun Asia serta dinamika atmosfer lain seperti MJO, gelombang Kelvin, dan Rossby,” ungkapnya.

Baca juga: Hearts2Hearts Gelar Fan Meeting di Jakarta Tepat di Hari Ulang Tahun Carmen

BMKG mencatat, puncak musim hujan masih berlangsung di wilayah selatan garis ekuator, termasuk Pulau Jawa dan sekitarnya. Kondisi tersebut membuat potensi hujan sedang hingga lebat masih cukup tinggi, terutama pada sore hingga malam hari. Tak hanya itu, pola cuaca nasional juga turut dipengaruhi dampak tidak langsung dari Siklon Tropis Luwana.

“Walaupun siklonnya menjauh dari wilayah Indonesia, dampak tidak langsungnya masih terasa berupa peningkatan kecepatan angin dan gelombang tinggi, khususnya di pesisir selatan Jawa, Bali, NTB, dan NTT,” jelasnya.

Baca juga: Komdigi Perketat Aturan Sim Card, Terapkan Verifikasi Biometrik Hingga Batasi Penggunaan Nomor

Berdasarkan pengamatan BMKG, kecepatan angin saat ini bisa mencapai 20 hingga 25 knot. Situasi tersebut juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, terutama di wilayah pesisir, nelayan, serta transportasi laut.

Sebagai langkah antisipasi, BMKG mengimbau masyarakat rutin memantau informasi cuaca melalui aplikasi resmi Info BMKG. BMKG berharap masyarakat tetap waspada dan siap siaga, mengingat potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi hingga akhir Januari 2026.

Share This Article