Jakartashowbiz.com – Solois Mario G Klau menghadirkan single baru berjudul Salah Kaprah. Lagu ini mengangkat kisah tentang keberanian menghadapi rasa, alih-alih terjebak pada asumsi dan ketakutan yang belum tentu nyata.
Dihadirkan dengan nuansa hangat dan emosional, lagu ini merefleksikan pengalaman jatuh cinta yang kerap dimulai dari prasangka, lalu berubah ketika keberanian akhirnya mengambil alih. Lagu Salah Kaprah berangkat dari kisah personal Mario soal mengenal seseorang dari kejauhan terlalu lama hingga akhirnya menyimpulkan banyak hal tanpa pernah benar-benar mencoba mendekat. Menurut Mario G Klau, seseorang kerap memilih mundur sebelum memberi dirinya sendiri kesempatan.
“Kadang kita keburu nyerah dan ambil kesimpulan sebelum benar-benar mencoba. Padahal kalau kita nggak maju dulu, kita nggak akan pernah tahu jawabannya. Ditolak atau diterima itu urusan belakangan, yang penting berani maju,” ungkap Mario G Klau.
Baca juga: Bikin Heboh, no na Tiba-Tiba jadi Petugas TransJakarta
Lagu ini juga menangkap momen ketika pertemuan yang selama ini ditakuti justru berujung pada kehangatan yang tak terduga. Perasaan jatuh cinta yang hadir dengan cepat menjadi inti emosi dalam lagu Salah Kaprah yang digambarkan melalui lirik-liriknya.
“Pertemuan itu ternyata nggak seseram yang aku bayangkan. Justru indah, seolah tanpa banyak kata kita sudah saling mengerti, padahal baru pertama kali benar-benar bertemu,” tambahnya.
Bagi Mario, cinta bukan hanya soal perasaan, tetapi juga keberanian untuk menyampaikannya. “Buat aku, tanggung jawab dalam cinta itu berani menyampaikan rasa, memberi ruang supaya perasaan itu bisa direspons. Mau atau nggak, yang penting kita sudah jujur,” katanya.

Dari sisi musikal, lagu Salah Kaprah dibalut dengan aransemen yang hangat dan sedikit upbeat, mencerminkan fase jatuh cinta yang bahagia. Lagu ini ditulis dan dibawakan oleh Mario G Klau, diproduseri oleh Mardenwil, dengan sentuhan piano dari Willy Alexander serta aransemen ceria.
Melalui lagu barunya ini, Mario G Klau berharap dapat menemani para pendengar untuk berani melangkah dan tidak terjebak pada asumsi. Sebuah pengingat bahwa terkadang, satu-satunya kesalahan adalah tidak mencoba sama sekali.