Jakartashowbiz.com – Film Esok Tanpa Ibu (Mothernet) bakal segera tayang di bioskop mulai 22 Januari 2026. Film ini hadir sebagai kisah yang akan menghangatkan penonton Indonesia lewat kondisi kontras ketika kecerdasan buatan (AI) berupaya menggantikan peran seorang Ibu.
Nggak main-main, film ini dibintangi oleh nama-nama besar seperti Ali Fikry, Dian Sastrowardoyo, Ringgo Agus Rahman, Aisha Nurra Datau, dan Bima Sena. Tak cuma bermain, Dian Sastro juga duduk di kursi produser bersama Shanty Harmayn, dengan arahan sutradara asal Malaysia, Ho Wi-ding.
“Melalui film terbaru Esok Tanpa Ibu (Mothernet), kami ingin membicarakan duka dan relasi keluarga dengan bahasa yang relevan dengan hari ini—dalam konteks teknologi AI yang kini sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Kami berharap kisah yang sangat personal ini dapat beresonansi secara universal dengan penontonnya,” kata Shanty Harmayn dari BASE Entertainment.
Baca juga: Live Action 5 Centimeters Per Second Bikin Kreatornya Menangis, Tayang Mulai 30 Januari di Bioskop
Film Esok Tanpa Ibu menampilkan kisah kehilangan dan duka dari seorang remaja bernama Rama alias Cimot (Ali Fikry) dan seorang suami (Ringgo Agus Rahman) menjadi satu-satunya yang tersisa dalam sebuah keluarga. Keduanya mencoba untuk menjalin hubungan yang dekat, namun kecanggungan membuat keduanya justru semakin berjarak.
Kehilangan sosok Ibu (Dian Sastrowardoyo) yang mengalami koma di usia yang sangat muda, membuat Cimot akhirnya mencoba segala cara. Dia mencoba menggantikan peran Ibu lewat sebuah kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus oleh temannya.

Bernama i-BU, AI ini dipersonalisasi untuk Cimot, mampu memahami perasaannya, mengetahui hal-hal yang disukai, dan menemani percakapan layaknya Ibunya saat masih sehat.
Bagi Dian Sastrowardoyo, film ini menyoroti hal mendasar tentang hubungan manusia di tengah gempuran teknologi.
“Ini adalah film keluarga yang mempertanyakan tentang autentisitas koneksi manusia di dunia yang sangat modern, di saat teknologi sudah sangat dekat seperti sekarang. Ketika teknologi hadir di ruang paling privat. Bagaimana manusia modern, yang beda generasi antara anak dan Bapak menghadapi duka, dengan atau tanpa bantuan teknologi,” bebernya.
Baca juga: Manggung Singkat di Roblox, Bruno Mars Ditonton 12,7 Juta Akun
Di film ini, peran Ali Fikry sebagai Rama atau Cimot menampilkan berbagai lapisan emosi duka. Dalam pandangannya, Ali menilai Cimot merepresentasikan upaya sebagian anak muda yang mencari pengalihan atas keresahan yang dirasakan.
“Apa yang aku eksplorasi di sini adalah remaja yang mencari tahu, ketika dia tiba-tiba kehilangan sosok Ibu, yang setiap harinya selalu ada buat dia. i-BU yang digunakan Cimot di film ini menjadi coping mechanism-nya, tempat yang nyaman untuk menggantikan peran Ibu. Tapi dia juga percaya, i-BU tidak bisa menggantikan Ibunya, hanya jadi sosok baru baginya,” ucap Ali Fikry.