Dua Lipa dan Coldplay Ikut Desak Pemerintah Inggris Batasi Harga Tiket Resale

Yuri Setiawan
4 Min Read
Dua Lipa. Foto: Instagram/@dualipa

Jakartashowbiz.com – Dua Lipa dan Coldplay dilaporkan jadi nama terbaru yang terang-terangan mendesak Pemerintah Inggris buat memberlakukan pembatasan harga maksimal untuk tiket konser yang dijual kembali. Keduanya bergabung dengan sejumlah nama lain di industri musik yang juga merasa keberatan dengan tidak masuk akalnya harga tiket resale pertunjukkan musik.

Gelombang protes dari musisi-musisi top dunia soal praktik penjualan kembali tiket konser (resale) yang udah kelewatan batas, akhirnya pecah. Deretan nama besar lainnya di industri musik kayak New Order, Iron Maiden, Sam Fender, PJ Harvey, Mark Knopfler, sampai Robert Smith dari The Cure, semua udah menandatangani surat yang ditujukan langsung ke Perdana Menteri Keir Starmer, nuntut biar pemerintah Inggris segera ambil tindakan buat ngelindungin para penggemar dari aksi para calo tiket yang ngeselin itu.

“Sudah terlalu lama platform resale tertentu membiarkan para calo membeli tiket dalam jumlah besar, lalu menjualnya kembali dengan harga yang melambung tinggi, memaksa penggemar untuk membayar di luar batas wajar atau bahkan tidak bisa menonton sama sekali,” bunyi pernyataan dalam surat tersebut, dikutip BBC.

Baca juga: Zayn Malik Aktif di PPM Music Limited, Sinyal One Direction Bakal Reuni?

Mereka bilang, kondisi ini udah ngeikis kepercayaan publik sama sektor acara langsung dan ngerusak usaha para artis serta penyelenggara buat ngejaga biar pertunjukan tetap bisa diakses dan terjangkau buat semua kalangan. Para musisi ini percaya, kalau batasan harga tiket diberlakuin, itu bakal memulihkan keyakinan terhadap sistem penjualan tiket, membantu mendemokratisasikan akses publik terhadap seni sesuai dengan agenda Pemerintah, dan memudahkan penggemar untuk mendeteksi perilaku ilegal, seperti penipuan tiket.

Desakan ini enggak cuma datang dari musisi aja. Beberapa organisasi terkemuka juga ikut tanda tangan dalam pernyataan itu, kayak badan pengawas Which?, O2, Football Supporters Association, FanFair Alliance, dan beberapa kelompok lain yang wakilin manajer, pengecer tiket, venue, sampai industri musik dan teater. Mereka semua nyeruin perlindungan baru yang dirancang buat “membantu memperbaiki elemen-elemen dari pasar tiket sekunder yang memeras dan merugikan, yang hanya melayani kepentingan para calo, yang praktik eksploitatif mereka mencegah penggemar sejati mengakses musik, teater, dan olahraga yang mereka cintai.”

Coldplay
Coldplay. Foto: Instagram/@coldplay

Kekhawatiran para musisi ini juga makin kuat setelah ada temuan baru dari investigasi yang dilakuin Which?. Laporan itu ngungkap kalau penjual tiket dari lokasi jauh kayak Brasil, Spanyol, Amerika Serikat, Dubai, dan Singapura, secara masif ngeborong tiket buat acara-acara di Inggris. Tiket itu terus dijual lagi dengan harga fantastis lewat platform kayak Viagogo dan StubHub.

Datanya nunjukkin kalau tiket konser Oasis di Wembley sempet dijual seharga 3.498,85 dolar AS (sekitar Rp58,4 juta) di StubHub, bahkan lebih dari 4.000 dolar AS (sekitar Rp66,8 juta) di Viagogo. Nggak cuma itu, praktik ‘penjualan spekulatif’ juga ditemukan, di mana tiket udah terdaftar di situs sekunder padahal penjualnya sendiri belum bener-bener beli dari distributor resmi. Contohnya, waktu tiket konser Busted vs McFly di Glasgow masih tersedia di penjual asli (Ticketmaster), tiket yang sama secara bersamaan udah terdaftar di Viagogo dan StubHub dengan harga dua kali lipat.

Share This Article