Cuma Dimiliki 50 Orang di Dunia! Golden Blood jadi Golongan Darah Paling Langka dan Berisiko

Yuri Setiawan
3 Min Read
Ilustrasi golongan darah manusia. Foto: Charlie-Helen Robinson/pexels.com

Jakartashowbiz.com – Pada umumnya, golongan darah yang dimiliki manusia diklasifikasikan pada empat jenis yaitu A, B, AB, dan O. Tapi, tahukah kalian kalau ada segelintir orang di dunia yang bergolongan ‘golden blood’? Bukan berarti darahnya terbuat dari emas, melainkan sebutan untuk golongan darah Rh-null yang super langka.

Saking jarangnya, fenomena medis ini diperkirakan hanya dimiliki oleh kurang dari 50 orang di seluruh dunia. Kondisi unik ini terjadi akibat mutasi genetik di mana darah mereka tidak memiliki antigen Rhesus (Rh) sama sekali di permukaan sel darah merahnya. Karena keunikannya yang krusial, para ilmuwan kini sedang berjuang mengembangkan darah ini di laboratorium demi misi penyelamatan nyawa.

Baca juga: Cerita Keseruan Al Ghazali dan Alyssa Daguise jadi Calon Orangtua

Perlu diketahui bahwa golongan darah biasanya ditentukan oleh keberadaan antigen, protein, atau gula pada sel darah merah yang memberi sinyal ke sistem imun. Nah, pada pemilik Rh-null, seluruh antigen Rh itu absen total. Absennya antigen ini membuat darah Rh-null menjadi sangat kompatibel alias cocok didonorkan ke hampir semua golongan darah lain dalam sistem Rh. Namun, ada kesalahpahaman yang sering terjadi mengenai istilah ‘emas’ yang dipakai.

“Istilah golden blood hanya merujuk pada kelangkaannya, bukan berarti darah ini lebih baik atau lebih murni dibanding tipe lainnya,” mengutip pernyataan Cleveland Clinic dari CNN.

Nasib pemilik Rh-null ini sebenarnya cukup tricky. Di satu sisi mereka dianggap sebagai donor universal yang sangat berharga, tapi di sisi lain, mereka menghadapi risiko besar jika butuh transfusi karena hanya bisa menerima darah dari sesama pemilik Rh-null. Bahkan, golongan darah O Negatif yang selama ini kalian kenal sebagai donor universal pun tidak bisa diberikan kepada mereka karena masih mengandung antigen Rh lain.

“Inilah yang membuat transfusi bagi pemilik Rh-null sangat berisiko. Jika menerima darah dengan antigen berbeda, tubuh akan membentuk antibodi dan bisa menyerang darah donor. Transfusi berikutnya bisa sangat berbahaya,” jelas Ash Toye, profesor biologi sel di University of Bristol.

Melihat risiko tinggi dan stok yang sangat terbatas, para peneliti memutar otak untuk memproduksi Rh-null di laboratorium. Melansir BBC, ilmuwan kini tengah mencoba menumbuhkan sel darah merah Rh-null dari sel punca (stem cell) hingga mengeksplorasi teknologi pengeditan gen.

Pada 2018, Ash Toye menggunakan teknik CRISPR-Cas9 untuk menciptakan sel darah Rh-null. Namun, teknologi tersebut masih sangat diatur ketat dan belum dapat diterapkan langsung pada manusia. Ash Toye dan timnya kini sedang mengerjakan studi RESTORE, sebuah uji coba pertama untuk melihat efektivitas sel darah merah hasil kultur laboratorium saat ditransfusikan ke tubuh manusia.

“Untuk saat ini, mengambil darah donor masih jauh lebih efisien dan murah. Kita tetap akan membutuhkan pendonor untuk jangka panjang. Tapi bagi mereka yang jumlah pendonornya sangat sedikit, kemampuan menumbuhkan darah akan jadi terobosan besar,” jelas Ash Toye.

Share This Article