Sukses Lancar Rejeki Ungkap Alasan Bikin Lagu Super Pendek dan Lirik Kocak Sebagai Senjata Utama

Magdalena Christine Deana
3 Min Read
Magdalena/Jakartashowbiz.com

Jakartashowbiz.com – Merasa lelah dengan lagu-lagu berdurasi panjang dan lirik yang itu-itu saja? Kenalan dengan Sukses Lancar Rejeki (SLR), band punk rock asal Bekasi yang menawarkan anomali menyegarkan di tengah industri musik.

Grup yang digawangi oleh Mahes (vokal/gitar), Jalil (bass), dan Bumbum (drum) tiga sekawan yang masih berseragam sekolah ini mengusung musik punk rock dengan durasi lagu yang sangat pendek dan lirik yang mengocok perut.

Baca Juga: Clara Riva Kasih Anthem Ceria Buat Kalian yang Lagi Capek Sama Hidup

Jangan harap menemukan lagu berdurasi tiga menit dalam album perdana mereka, “Bisa Meledak”. Salah satu andalan mereka bahkan hanya berdurasi 29 detik. Konsep unik ini sengaja mereka usung untuk memaksimalkan elemen komedi dalam lirik. Mahes, sang vokalis sekaligus gitaris, punya filosofi menarik di balik pendekatan “singkat, padat, dan lucu” ini.

Magdalena/Jakartashowbiz.com

“Ada yang semenit, ada yang 29 detik, 30 detik. Itu sebenarnya konsep, karena kalau misalkan kalian di tongkrongan terus ada orang nge-jokes, pertama kali ‘Wah ngakak banget’, tapi kalau diulang-ulang sama dia, jadi enggak ngakak,” jelas Mahes saat ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Menurut Mahes, sebuah lelucon akan kehilangan kekuatannya jika diulang terus-menerus, dan hal yang sama berlaku untuk musik. Sebuah lagu dengan tema jenaka akan terasa membosankan jika diulur terlalu panjang dengan punchline yang sama.

Magdalena/Jakartashowbiz.com

“Kalau kita ngomongin ‘Maling’ deh ya, ‘Maling’ kita bikin 4 menit, bosen enggak orang? Maksudnya punchline-nya sama terus kan. Komedi kan ekspektasi yang dipatahkan. Tapi kalau ekspektasinya udah ketebak melulu kan kayak, ‘Ah, udah enggak lucu nih’,” katanya.

Salah satu bukti nyata dari konsep ini adalah lagu berjudul “Asgar” yang hanya berdurasi 29 detik. Durasi super singkat ini justru menjadi bahan lelucon yang efektif saat mereka manggung, menciptakan interaksi unik dengan penonton.

Magdalena/Jakartashowbiz.com

“Nanti pas di panggung bisa dibikin kayak, ‘Ini lagu paling lama SLR, kalian harus cepat *moshing* ya’. Terus penonton prok prok prok, ‘Ayo udah selesai lagunya segitu doang’. Akhirnya jadi jokes,” cerita Mahes.

Pendekatan ini terbukti ampuh karena lirik-lirik SLR memang dirancang seperti lelucon singkat yang langsung mengena. Alih-alih mengangkat tema berat seperti politik, mereka memilih cerita-cerita jenaka dari kehidupan sehari-hari, mulai dari paniknya ditunjuk guru di kelas hingga drama kehilangan sandal jepit di tongkrongan.

Share This Article