Pakar Kesehatan Ingatkan Bahaya Kebiasaan Sepele Masyarakat Urban, Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Penyakit Serius

Yuri Setiawan
4 Min Read

Jakartashowbiz.com – Kesibukan masyarakat perkotaan yang semakin padat sering kali membuat berbagai sinyal awal gangguan kesehatan terabaikan. Padahal, kebiasaan yang dianggap sepele, seperti terlalu sering mengorek telinga, terlalu lama menatap layar gawai, hingga menunda pemeriksaan kesehatan rutin, dapat meningkatkan risiko penyakit serius.

Hal tersebut menjadi pembahasan dalam acara bertajuk “Memahami Kesehatan dari Berbagai Sudut Pandang” yang diselenggarakan oleh Stomp & Stride The Marketing Agency bekerja sama dengan LohGuanLye Specialists Centre Penang, Malaysia, di Jakarta.

Baca juga: Kate Winslet Bicara Soal Pentingnya Kesehatan di Atas Penampilan Fisik

Acara tersebut mengajak masyarakat untuk mengubah pola pikir dari sekadar mengobati penyakit ketika sudah parah menjadi lebih mengutamakan langkah preventif melalui deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Salah satu sorotan dalam diskusi adalah meningkatnya gangguan telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) akibat kebiasaan sehari-hari yang kurang tepat. Pakar THT, Dato’ Dr. Lim Seh Guan, menjelaskan bahwa mengorek telinga secara berlebihan justru dapat merusak lapisan pelindung alami telinga dan meningkatkan risiko infeksi.

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang salah memahami penyebab berbagai keluhan kesehatan, termasuk bau mulut atau halitosis.

“Banyak orang mengira bau mulut selalu berasal dari lambung. Padahal, secara klinis penyebabnya umumnya berasal dari sinusitis, sisa makanan yang menumpuk di sela gigi karena tidak menggunakan dental floss, kebersihan rongga mulut yang kurang baik, hingga infeksi paru seperti tuberkulosis,” ujarnya.

Selain gangguan THT, para ahli juga menyoroti ancaman penyakit mata yang semakin meningkat seiring tingginya penggunaan perangkat digital.

Pakar mata, Dr. Lim Chang Zhen, mengingatkan bahwa glaukoma merupakan salah satu penyebab utama kebutaan yang kerap berkembang tanpa gejala pada tahap awal.

Ia menegaskan, pemeriksaan tekanan bola mata atau tonometri secara berkala setiap satu hingga dua tahun menjadi langkah penting untuk mendeteksi glaukoma sebelum terjadi kerusakan permanen pada saraf mata.

“Masyarakat urban menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar, tetapi masih jarang melakukan pemeriksaan mata rutin. Padahal, kerusakan saraf mata akibat glaukoma tidak dapat dipulihkan,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, perhatian juga diberikan pada pentingnya deteksi dini kanker ginekologi, seperti kanker serviks, kanker ovarium, dan kanker rahim.

Dr. Tan Hoo Seong menekankan bahwa pemeriksaan rutin seperti pap smear mampu mendeteksi perubahan sel sejak stadium awal sehingga peluang kesembuhan menjadi jauh lebih tinggi.

Ia menyebutkan, kanker yang ditemukan pada stadium satu memiliki tingkat kesembuhan lebih dari 90 persen apabila segera ditangani.

Selain pemeriksaan rutin, para peserta juga diperkenalkan pada pentingnya konsultasi genetik sebagai bagian dari layanan kesehatan preventif modern.

Genetic Counsellor Cheah Yee Ling menjelaskan bahwa tes genetik dapat membantu mengidentifikasi risiko penyakit keturunan, termasuk Hereditary Breast and Ovarian Cancer (HBOC) akibat mutasi gen BRCA1 yang meningkatkan risiko kanker payudara dan ovarium.

Menurutnya, pemeriksaan DNA melalui sampel air liur atau sapuan pipi memungkinkan seseorang mengetahui risiko penyakit lebih awal sehingga dokter dapat menentukan langkah pencegahan maupun terapi yang tepat.

Melalui kegiatan ini, Stomp & Stride The Marketing Agency bersama para pakar dari LohGuanLye Specialists Centre mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap sinyal tubuh dan tidak menunggu munculnya gejala berat sebelum memeriksakan diri.

Deteksi dini, skrining kesehatan berkala, serta pemanfaatan teknologi seperti konsultasi genetik dinilai menjadi investasi penting untuk menjaga kualitas hidup sekaligus mencegah penyakit berkembang ke stadium yang lebih berat.

Share This Article