Manohara Tulis Surat Terbuka, Tak Ingin Dilabeli Mantan Istri Akibat Kejadian di Masa Lalu

Yuri Setiawan
3 Min Read
Manohara Odelia Pinot. Foto: Instagram/@manodelia

Jakartashowbiz.comManohara Odelia Pinot membuat pernyataan terbuka di sosial media soal keberatannya disebut sebagai mantan istri di setiap pemberitaan. Menurutnya, penggunaan diksi ‘mantan istri’ tidak akurat dan terkesan menyesatkan.

Itu disampaikan Manohara dalam salah satu postingan di Instagramnya, belum lama ini. Unggahan tersebut dia labeli sebagai tulisan terbuka yang ditujukan untuk media massa di Indonesia.

“Selama bertahun-tahun, saya secara berulang kali disebut dalam artikel dan judul berita sebagai ‘Mantan Istri [blank].’ Saya menulis ini untuk dengan hormat menjelaskan bahwa deskripsi tersebut tidak akurat dan menyesatkan,” tulis Manohara mengawali uraiannya.

Baca juga: Devano Ditantang jadi Alay di Film CAPER: Check Out Sekarang, Pay Later

Dia kemudian menjelaskan yang terjadi di masa lalu bukanlah sesuatu yang hal yang disetujui olehnya. Manohara juga menyebut jika pernikahan yang sempat dijalaninya bukan pernikahan yang sah karena tidak menyetujuinya secara personal.

“Apa yang terjadi selama masa remaja saya bukanlah hubungan romantis, bukan hubungan yang disetujui, dan bukan pernikahan yang sah. Tidak pernah ada hubungan yang saya inginkan, setujui, atau masuk ke dalamnya secara sukarela,” sambungnya.

Manohara mengatakan jika kala itu dirinya masih di bawah umur dan dalam paksaan. Dia juga menyebut kebebasan yang memiliki masih terbatas.

“Artinya saya tidak memiliki pilihan nyata atau kemampuan untuk memberikan persetujuan. Penggunaan istilah ‘mantan istri’ menyiratkan hubungan dan pernikahan yang sah, sukarela, dan dewasa. Implikasi tersebut salah. Hal ini mengubah situasi paksaan menjadi hubungan yang sah dan mendistorsi kenyataan yang terjadi,” katanya.

Baca juga: Bruno Mars Rampungkan Produksi Album Baru

Maka dari itu, Manohara meminta kepada semua media agar tidak menulisnya dengan label mantan istri seseorang.

“Permintaan ini bukan tentang membuka kembali masa lalu. Ini adalah tentang akurasi, etika, serta penggunaan bahasa dan konteks yang bertanggung jawab. Bahasa yang digunakan dengan cermat sangatlah penting. Kata-kata memiliki konsekuensi. Para penyintas berhak agar kisah mereka disampaikan secara jujur dan bermartabat,” pungkasnya.

Seperti diketahui, pada 2009, nama Manohara menjadi perbincangan usai ibundanya, Daisy Fajarina, mengabarkan jika anaknya mendapatkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dari Pangeran Kelantan, Malaysia yang kala itu disebut sebagai suaminya. Mahohara kemudian berhasil melarikan diri dari Malaysia dan mengaku mengalami pelecehan seksual dan kekerasan selama di sana.

Share This Article