Jakartashowbiz.com – Program musik mingguan, Main-Main di Cipete, kembali membuktikan eksistensinya sebagai salah satu denyut nadi penting bagi kancah musik independen. Memasuki edisi ke-35, panggung yang bertempat di Casatopia Cafe ini konsisten menjadi ruang selebrasi bagi keberagaman ekspresi dan suara dari para musisi lintas genre.
Baca Juga: Mengenal Catherine Laga’aia, Pemeran Moana Live-Action yang Ternyata Anak Bintang Film Star Wars
Gelaran ini menjadi bukti nyata bahwa musik independen di Jakarta Selatan bukan lagi sekadar alternatif, melainkan arus utama bagi mereka yang mendambakan keaslian. Dipandu oleh duo Eno Suratno Wongsodimedjo dan Qenny Alyanno, acara ini sukses menciptakan atmosfer yang hangat dan intim.

Sejak digagas pada akhir 2024, Main-Main di Cipete telah menjadi rumah bagi lebih dari 100 musisi dari berbagai kota di Indonesia hingga Asia Tenggara. Konsepnya yang memungkinkan interaksi langsung antara penampil dan penonton membuat setiap edisi terasa personal dan berkesan.
Malam dibuka dengan syahdu oleh penampilan Noviandrea, seorang singer-songwriter asal Jakarta. Dengan format pop akustik, ia membawakan lagu-lagu andalannya seperti “To Be Loved by You” dan “For All Of My Life”, menebarkan nuansa lembut dan emosional ke seluruh penjuru kafe.

Suasana semakin hangat ketika musisi R&B asal Tangerang Selatan, Big A, mengambil alih panggung. Tak sendirian, ia membawa serta lima rekannya untuk membawakan karya-karyanya, termasuk “Kau/You”, sebuah trek bilingual dengan aransemen modern yang soulful.
Selanjutnya, panggung diisi oleh Syauu yang membawakan materi dari EP terbarunya, “I Survive This”. Lewat lagu-lagu introspektif seperti “Do I Matter?” dan “Send Me Away”, ia memamerkan sisi eksperimental dan emosional dari musik independen yang kerap tak tersentuh radar arus utama.

Duo Rue juga turut memeriahkan malam dengan membawakan repertoar mereka, antara lain “Sekedar Kira-kira”, “Why”, dan “On My Mind”. Sebagai penutup, unit musik Minivan menyuguhkan penampilan enerjik dengan karakter musik yang unik.
Mereka membawakan nomor-nomor seperti “No Love”, “To the Point”, “A Matter of Time”, hingga “Getaran Tak Biasa”, menjadi pamungkas yang manis untuk gelaran edisi kali ini.

Eno Suratno Wongsodimedjo, selaku penggagas acara, menegaskan bahwa semangat utama dari program ini adalah inklusivitas dan kejujuran dalam berkarya.
“Acara ini memilih kejujuran dalam musik, bukan genre tertentu, dan terus membuka pintu bagi musisi yang ingin tampil dan terhubung dengan komunitas,” ujarnya.
Konsistensi inilah yang menjadikan Main-Main di Cipete bukan sekadar panggung, melainkan sebuah wadah penting untuk kolaborasi dan pertukaran gagasan di ekosistem kreatif lokal, Jakarta.