Jakartashowbiz.com – Kabar membanggakan datang dari dunia perfilman Indonesia. Sutradara Joko Anwar baru saja menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Dia resmi dianugerahi tanda kehormatan Chevalier (Knight) of the Ordre des Arts et des Lettres oleh Pemerintah Prancis.
Momen bersejarah dan penuh haru ini berlangsung di Gedung Kementerian Kebudayaan Prancis di Paris. Penghargaan ini adalah bentuk pengakuan atas dedikasi dan komitmen Joko Anwar selama 20 tahun berkarya di dunia sinema, dimana film-filmnya dinilai memberikan dampak signifikan, nggak cuma buat Indonesia, tapi juga lanskap sinema global
Baca juga: Shaloom Razade Mainkan Dua Karakter di Film Malam 3 Yasinan
Penghargaan tersebut disematkan langsung oleh Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati. Beliau menyoroti pendekatan khas Joko Anwar yang jenius dalam menjadikan film sebagai medium yang mudah diterima penonton luas, tapi tetap membawa isu sosial penting di masyarakat.
“Dedikasi dan komitmennya telah berkontribusi pada kemajuan perfilman Indonesia, sekaligus memperkaya dialog sinema dunia.” Ujar Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati.

Ordre des Arts et des Lettres sendiri merupakan salah satu penghargaan kebudayaan tertinggi di Perancis. Dengan gelar ini, Joko Anwar resmi bergabung dengan jajaran legenda dunia seperti Martin Scorsese, David Lynch, Tim Burton, David Bowie, hingga Hayao Miyazaki.
Dalam pidatonya, Joko Anwar menyampaikan rasa terima kasih dan refleksinya sebagai pembuat film dari Indonesia. Dia menjelaskan bagaimana dirinya menggunakan genre populer untuk menyuarakan kegelisahan terhadap isu sosial dan ekologis.
“Melalui cerita-cerita yang dibungkus dalam horor, thriller, atau komedi, saya berusaha membicarakan hal-hal yang sering kali sulit dibicarakan secara langsung, tentang ketidakadilan, tentang kekuasaan, tentang manusia dan lingkungan tempat ia berpijak,” ujar Joko Anwar.

Diketahui, saat ini Joko Anwar sedang mempersiapkan film terbarunya, Ghost in the Cell yang dijadwalkan tayang pada 2026. Film ke-12 ini bakal mengusung genre horor-komedi dengan latar penjara sebagai metafora isu lingkungan dan kekuasaan.
“Ghost in the Cell adalah bagian dari percakapan yang sama yang selama ini ingin saya bangun lewat film-film saya, menggunakan genre untuk menghibur, tetapi juga untuk mengajak penonton berpikir tentang dunia tempat kita hidup,” ungkapnya.