Jakartashowbiz.com – Malam tahun baru identik dengan pesta kembang api. Tapi, di balik warna indah di langit dan dentuman keriuhannya, kembang api ternyata menyimpan dampak serius bagi lingkungan. Bahkan, efek negatifnya bisa jauh lebih besar dibandingkan keindahan yang hanya bertahan beberapa menit.
Dilihat dari ANTARA, menurut Meersens dan Earth.org, kembang api termasuk alat piroteknik yang memadukan bahan peledak dan zat pijar untuk menghasilkan cahaya, suara, dan asap. Bahan utamanya adalah bubuk mesiu yang terdiri dari campuran batu bara, belerang, dan kalium nitrat. Selain itu, ditambahkan zat pengoksidasi dan berbagai mineral untuk menghasilkan warna.
Baca juga: Gaya Rambut Ala Billie Eilish Diprediksi Bakal jadi Tren di 2026, Berani Coba?
Masalahnya, saat meledak, bahan kimia kembang api tidak langsung hilang begitu saja. Zat-zat tersebut terbakar di udara dan berubah menjadi polusi berbahaya. Ledakan kembang api juga melepaskan partikel halus PM2.5 dan PM10 yang bisa mengganggu pernapasan. Menurut WHO, partikel tersebut berkontribusi besar terhadap penyakit serius seperti kanker paru-paru, penyakit jantung, dan COPD.
Dampaknya pun bisa memengaruhi suhu udara hingga jarak pandang. Selain itu, gas beracun seperti karbon monoksida dan nitrogen monoksida juga dilepaskan ke atmosfer.

Bahaya lainnya adalah sisa ledakan kembang api yang meninggalkan residu kimia, termasuk perklorat, yang dapat mencemari tanah dan air. Zat ini bersifat persisten dan berbahaya bagi makhluk air seperti ikan.
Studi USGS dan National Park Service di Mount Rushmore, AS, menemukan kadar perklorat tinggi di tanah dan perairan sekitar lokasi pesta kembang api. Kembang api juga berkontribusi pada kontaminasi mikroplastik di perairan serta pembentukan hujan asam akibat gas nitrogen oksida dan sulfur dioksida. Sulfur dioksida ini bahkan bisa merusak daun dan menghambat pertumbuhan tanaman.
Risiko kebakaran juga sangat nyata, terutama di daerah kering. Percikan api kecil saja bisa memicu kebakaran besar yang bisa menghancurkan.

Tak cuma untuk lingkungan, hewan pun ikut menderita. Menurut Humane Society of the United States, suara keras kembang api dapat mengganggu hewan hingga membuat mereka stres, ketakutan, tersesat, atau celaka di jalan. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa angsa migran dapat terbang jauh meninggalkan tempat istirahatnya saat tahun baru dan tidak kembali.
Ribuan burung bisa terbang panik hingga ketinggian 500 meter akibat suara ledakan kembang api. Contoh tragisnya terjadi pada Tahun Baru 2021 di Roma, di mana ratusan burung ditemukan mati dan OIPA (Organisasi Internasional Perlindungan Hewan) meyakini hal itu disebabkan suara petasan.