Jakartashowbiz.com – Produktivitas Sundanis dalam melahirkan karya musik terus berlanjut usai bergabung dengan label FloorInc. Setelah lagu EGP meledak di pasaran, kini lagu Bad Mood hadir untuk suguhan terbaru para penggemarnya.
Dalam keterangannya, Sundanis mengaku membuat lagu Good Mood dari pengalaman pribadinya. Dia berharap, semua orang yang mendengarkan juga bisa relate dengan karya terbarunya itu.
“Ide lagu Bad Mood ini aku dapat dari berbagai hal yang aku alami sehari-hari. Misalnya, saat lagi sama pasangan, tiba-tiba ada hal yang bikin kesal. Tentu saja itu bikin mood langsung berubah jadi bad,” ungkapnya.
Baca juga: Komika Priska Baru Segu Olah Keresahan di Usia 30 Tahun jadi Materi Special Show
Seperti halnya lagu EGP yang kini sudah didengar oleh 1,2 juta kali di Spotify, single Bad Mood hadir dengan warna hipdut yang menjadi ciri khas Sundanis. Pengerjaannya bahkan tergolong singkat karena hanya memakan waktu satu hari. Meski begitu, ada cerita di balik pembuatannya karena adanya perubahan dari segi musik.
“Jadi, lagu Bad Mood itu bisa dibilang sudah rampung sebelum terpilih menjadi single kedua. Namun, tiba-tiba aku punya ide dadakan sehingga aransemen musik dan notasi lagunya diubah total. Jadilah hasilnya seperti yang kalian dengar sekarang,” tuturnya.

Jika di single sebelumnya, Sundanis membuat dua versi, yaitu versi solo dan versi duet, kini di Bad Mood dia hanya menghadirkan konsep duet dengan menggandeng model asal Bandung, Uiendha.
“Semoga kolaborasi ini bisa memberi warna baru dalam perjalanan musikalku dan semoga para pendengar musikku bisa merasakan nuansa yang berbeda dan lebih segar,” harapnya.
Baca juga: Tampil di Soundtrack Film Timun Mas, Mimic Ingin Jadi Penyanyi Sukses Seperti Ariana Grande
Lewat single terbaru ini pun, Sundanis berharap dapat meraih pencapaian yang lebih tinggi dibanding karya sebelumnya. “Harapanku, single terbaru ini bisa lebih diterima lagi oleh semua lapisan masyarakat Indonesia, jauh melebihi EGP dan lagu-lagu Sundanis sebelumnya. Meski mungkin bahasanya kurang familiar bagi beberapa kalangan, tapi bahasa musik itu universal. Jadi, meskipun tidak paham liriknya, tapi kalau melodinya enak dan orang suka, mereka pasti bisa menerima lagu itu,” ungkapnya penuh optimisme.

Satu hal yang membuat pengagum musisi Doel Sumbang ini senang dengan perkembangan musik lokal sekarang adalah semakin diterimanya genre hipdut di berbagai kalangan, bahkan hingga ke Gen Z.
“Aku melihat perkembangan hipdut sekarang sedang bagus banget. Tidak hanya didengar oleh kalangan terbatas, tapi hipdut bisa diterima dan dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia yang masih awam terhadap musik hip hop. Hipdut pun juga memberikan warna baru bagi genre hip hop Indonesia. Aku berharap genre Hipdut bisa terus meraih banyak penggemar serta mewarnai peta musik Indonesia, bahkan hingga ke ranah internasional,” pungkas Sundanis.