Jakartashowbiz.com – Intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa waktu belakangan membuat tingkat kelembapan udara meningkat secara drastis di berbagai wilayah. Kondisi ini wajib diwaspadai karena bisa menyebabkan meningkatkan pertumbuhan virus penyakit yang rentan menyerang kesehatan, khususnya anak-anak.
Jika idealnya kelembapan udara berada di kisaran 45–65% RH, data BMKG pada 2025 menunjukkan bahwa kelembapan nasional telah naik hingga 76% RH. Bahkan melonjak ekstrem mencapai 84–93% RH di beberapa wilayah.
Kondisi lembap yang persisten ini membuat bibit penyakit lebih mudah bertahan di udara maupun menempel pada permukaan benda. Akibatnya, risiko penularan infeksi meningkat tajam, terutama di ruang tertutup dengan sirkulasi kurang optimal.
Setidaknya, ada tiga virus utama yang siap mengintai kesehatan di musim penghujan dengan kondisi kelembapan seperti sekarang. Lantas, apa saja?
1. Virus Dengue (Demam Berdarah)
Ancaman pertama yang paling klasik tapi mematikan adalah Virus Dengue. Genangan air setelah hujan menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti, dan kelembapan tinggi dapat memperpanjang umur serta aktivitas nyamuk sehingga risiko penularan meningkat.
2. Rhinovirus
Selanjutnya, ada Rhinovirus yang menjadi biang kerok penyakit pernapasan. Kelembapan tinggi membuat droplet pembawa virus bertahan lebih lama di udara. Akibatnya, peluang penularan di ruang tertutup meningkat, terutama pada rumah atau kantor yang minim ventilasi.
Menurut Dinkes DKI Jakarta, hingga Oktober 2025 terdapat 1.966.308 kasus ISPA di Ibu Kota. Dari hasil analisis panel respirasi, rhinovirus menjadi salah satu virus paling dominan bersama RSV.
3. Enterovirus (Flu Singapura)
Terakhir, kalian harus waspada terhadap Enterovirus atau penyebab Flu Singapura (HFMD), terutama bagi anak-anak. Penelitian di Guangzhou (2024) menemukan bahwa insiden HFMD meningkat signifikan pada kelembapan 75–85% RH, dengan risiko penularan yang bertambah seiring kenaikan kelembapan.
Di Indonesia, pola penyebarannya pun serupa. Laporan kesehatan beberapa daerah mencatat peningkatan kasus hingga 30% pada puncak musim hujan, terutama di permukiman padat.