Jakartashowbiz.com – Penikmat musik indie pasti sudah tidak asing dengan nama besar Float. Setelah lebih dari dua dekade mewarnai industri musik Indonesia, mereka kembali menyapa penggemar lewat single terbaru bertajuk Dimabuk Cahaya.
Karya ini hadir bukan sebagai ajang comeback atau gebrakan dadakan semata, melainkan sebuah lanjutan napas yang sudah mereka embuskan sejak awal karier. Float tetap konsisten menghadirkan karya yang jujur, organik, dan penuh rasa dengan formasi terbarunya yang solid.
Baca juga: Oxperience 2025 Sukses Hadirkan Euforia Sensorik, Diramaikan Isyana Sarasvati Hingga Dewa 19
Meng (vokal/gitar) bersama Timur Segara (drum), David Qlintang (gitar), dan Binsar Tobing (bass) meramu lagu ini sebagai cara sederhana untuk menegaskan eksistensi mereka. Bagi mereka, perjalanan bermusik ini belum selesai dan masih panjang untuk diarungi bersama pendengar setianya.
“Ini bukan comeback. Kami cuma meneruskan napas yang sama, tapi mungkin warnanya beda, lebih segar,” kata Meng.

Jika membahas tentang Float, mereka memiliki filosofi unik yang mengidentikkan band dengan kondisi ‘mengapung’. Posisi ini menggambarkan keadaan yang tidak terlalu tinggi, tidak tenggelam, namun tetap ada dan stabil. Filosofi inilah yang dirasa paling ideal bagi mereka untuk bertahan di tengah industri musik yang semakin cepat dan penuh tuntutan untuk menjadi viral di media sosial.
“Kami tidak perlu ikut ribut agar terlihat relevan. Yang penting jujur dengan karya kami sendiri,” kata Binsar.
Itulah sebabnya, Dimabuk Cahaya dihadirkan sebagai bentuk perlawanan halus terhadap tekanan algoritma yang sering bikin pusing. Lagu ini mengajak pendengar untuk berhenti sejenak dan benar-benar mendengar dengan seksama.
Secara musikalitas, single ini punya warna vintage ala 70-an yang hangat, organik, serta sangat berkarakter. Nuansa ini lahir karena Meng terinspirasi dari lagu tema James Bond klasik berjudul You Only Live Twice.

Dari segi lirik, lagu ini mengangkat tema kejujuran dan kesadaran yang mendalam. Cahaya di sini bukan digambarkan sebagai sesuatu yang lembut, tapi justru cahaya yang ‘menelanjangi’ hal-hal yang sedang disembunyikan. Float menganggap cahaya sebagai sebuah simbol akan pengetahuan dan iman, sesuatu yang terkadang menyakitkan saat diketahui tapi tetap membebaskan jiwa.
“Yang terpenting, lewat lagu ini kami merasa lebih hidup!” ujar David.
Lewat lagu ini, Float membuktikan bahwa mereka tidak sedang mengejar tren sesaat. Mereka hanya memastikan cahaya yang menuntun mereka sejak awal masih menyala dan berharap pendengar bisa merasakannya.