Film Anak-Anak Bambu Angkat Filosofi Ketangguhan Anak, Elma Theana Usung Misi Sosial di Hari Anak Nasional

Yuri Setiawan
5 Min Read

Jakartashowbiz.com – Film Anak-Anak Bambu hadir sebagai tontonan keluarga yang mengusung nilai pendidikan karakter, kepedulian sosial, dan filosofi bambu sebagai simbol ketangguhan. Film produksi perdana Elma Theana itu dijadwalkan tayang di bioskop mulai 23 Juli, bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional.

Dalam konferensi pers, tokoh Rumah Bambu, Abah Jatnika, menjelaskan bahwa film tersebut lahir dari keinginan membangun generasi yang tangguh, mandiri, dan bermanfaat bagi lingkungan.

“Jangan sampai kita membangun generasi yang lembek, tidak tahan banting, dan tidak terdidik. Harapannya lahir generasi yang kuat serta berguna bagi banyak orang,” ujar Abah Jatnika.

Baca juga:Ā Tumbuhkan Minat Belajar Anak, Gentem Lifelong Learning Group Luncurkan Program Genstarkids

Menurutnya, bambu menjadi simbol penting karena memiliki banyak makna. Selain tumbuh secara berumpun, bambu juga mencerminkan semangat kebersamaan, ketahanan, serta memberikan manfaat dalam berbagai aspek kehidupan.

Abah Jatnika juga memperkenalkan senam berbasis gerakan pencak silat Nusantara yang turut hadir dalam film tersebut. Ia menyebut gerakan itu dirancang dari berbagai aliran silat Indonesia dengan teknik pernapasan sebagai upaya menghadirkan olahraga khas Tanah Air.

Elma Theana Terinspirasi Kisah Nyata Rumah Bambu

Produser Elma Theana mengungkapkan bahwa Anak-Anak Bambu merupakan film pertamanya sebagai produser. Ide cerita berasal dari kisah nyata yang berkembang di Rumah Bambu.

Ia mengaku tertarik mengangkat kehidupan anak-anak yatim yang mendapatkan pendidikan karakter melalui filosofi bambu.

“Ini adalah film pertama saya yang diangkat dari kisah nyata di Rumah Bambu. Saya ingin memperkenalkan cerita di balik tempat ini kepada masyarakat,” kata Elma.

Menjelang penayangan film, Elma aktif melakukan promosi ke berbagai daerah. Ia mengaku telah mengunjungi sekitar 10 kota sambil mengajak anak-anak yatim menyaksikan film di bioskop sebagai bagian dari gerakan sosial yang diusung.

Sutradara Soroti Hak Anak Meraih Kebahagiaan

Sutradara Dyan Sunu Prasetyo menilai film ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi ajakan untuk menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak Indonesia.

Menurutnya, setiap anak berhak memperoleh kasih sayang, kebahagiaan, dan kesempatan menggapai cita-cita tanpa memandang latar belakang.

Ia juga menilai filosofi bambu menjadi kekuatan utama cerita karena menggambarkan karakter yang lentur saat menghadapi cobaan, namun tetap mampu berdiri teguh setelah melewati kesulitan.

“Bambu menjadi simbol bahwa kita saling menopang dan tetap kuat menghadapi berbagai tantangan,” ujarnya.

Para Pemeran Bangun Karakter Lewat Pendalaman Emosi

Ayushita, yang memerankan karakter Bunda Neta, mengatakan proses pendalaman karakter dilakukan melalui diskusi intensif bersama sutradara. Ia bersama tim membangun latar belakang psikologis tokohnya agar emosi yang ditampilkan terasa lebih alami.

Baginya, karakter dalam film menunjukkan bahwa setiap orang memiliki proses pendewasaan dan kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.

Sementara itu, Irgi Fahrezi menilai kekuatan utama film terletak pada pesan moral yang ingin disampaikan.

Ia menyebut Rumah Bambu menggambarkan pentingnya lingkungan sebagai sistem pendukung bagi anak-anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas.

“Support system bukan hanya berasal dari keluarga, tetapi juga dari lingkungan yang memberikan kasih sayang,” ujar Irgi.

Anak-Anak Pemeran Rasakan Makna Keluarga dan Persahabatan

Muhammad Adhiyat yang memerankan Gebang mengaku banyak belajar langsung di Rumah Bambu bersama anak-anak asuh selama proses syuting.

Ia menyimpulkan bahwa makna terbesar yang diperoleh dari film tersebut adalah keluarga.

“Keluarga tidak harus memiliki hubungan darah. Orang-orang di sekitar yang membuat kita nyaman juga bisa menjadi keluarga,” katanya.

Sementara Nadhira, yang turut menyanyikan soundtrack film, memaknai Anak-Anak Bambu sebagai kisah tentang persahabatan yang saling menjaga dan menguatkan.

Sonny Septian dan Fairuz A. Rafiq: Kebahagiaan Berasal dari Hal Sederhana

Sonny Septian mengaku bangga dapat terlibat dalam film yang sarat pesan kemanusiaan tersebut. Ia menilai film mengajarkan bahwa kebahagiaan sering kali hadir dari hal-hal sederhana.

Menurutnya, filosofi bambu mengingatkan setiap orang agar tetap kuat menghadapi cobaan dengan dukungan keluarga, pasangan, maupun sahabat.

Fairuz A. Rafiq menambahkan bahwa film lahir dari kepedulian Elma Theana terhadap anak-anak yatim.

Ia menilai seluruh karakter dalam film memang memiliki kekurangan, tetapi mampu saling melengkapi melalui cinta dan kepedulian.

King Faaz Jalani Debut Film Layar Lebar

King Faaz turut mencuri perhatian karena menjalani debutnya di layar lebar melalui Anak-Anak Bambu. Putra Fairuz A. Rafiq itu mengaku senang akhirnya bisa mewujudkan impian bermain film.

Fairuz menjelaskan keikutsertaan putranya merupakan bentuk dukungan khusus kepada Elma Theana. Ia memastikan keputusan tersebut tetap mempertimbangkan pendidikan dan kegiatan mengaji King Faaz.

Melalui cerita tentang anak-anak yatim, keluarga, serta filosofi bambu, Anak-Anak Bambu menawarkan pesan tentang ketangguhan, kasih sayang, dan pentingnya saling menguatkan.

Film ini diharapkan menjadi pilihan tontonan keluarga saat Hari Anak Nasional sekaligus mengajak masyarakat lebih peduli terhadap masa depan anak-anak Indonesia.

Share This Article