Di Balik Teror Horor Putri Jangan Gentayangan Lagi, MVP Pictures Sisipkan Pesan Penting untuk Remaja
Jakartashowbiz.com – Rumah produksi MVP Pictures menghadirkan film horor Putri Jangan Gentayangan Lagi bukan sekadar untuk memberikan hiburan dan teror kepada penonton. Film yang diangkat dari kisah nyata keluarga Amanda Rizky Saputri atau Putri itu juga membawa pesan edukasi bagi kalangan remaja, khususnya terkait komunikasi keluarga, pergaulan dengan lawan jenis, hingga dampak panjang dari keputusan yang diambil secara impulsif.
Produser Raam Punjabi mengatakan, pesan edukasi tersebut menjadi salah satu hal penting yang ingin disampaikan melalui film ini. Menurutnya, orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan arahan kepada anak, terutama di tengah perkembangan generasi Z yang memiliki pemikiran dan karakter tersendiri.
“Mak Eli mengalami situasi tersebut sehingga memberikan contoh kepada kita semua bahwa mendidik anak bukanlah hal yang mudah, apalagi dalam generasi Z ini, semua punya pemikiran sendiri. Tapi kita (sebagai orang tua) tidak boleh lepas dari tanggung jawab kita, tetap memberikan pengarahan yang benar,” kata Raam di Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Raam juga memberikan apresiasi kepada Mak Eli, sosok asli dalam kisah tersebut, yang telah mempercayakan pengalaman keluarganya untuk diangkat ke layar lebar. Proyek ini digarap bersama Folago Pictures, PK Films, dan SHOW Token.
Ia menilai, kepercayaan dan kolaborasi seluruh pihak menjadi modal penting dalam menghadirkan film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mampu menyampaikan pesan kepada penonton.
Raam turut mengapresiasi dialog serta penokohan yang dibangun sutradara Rizal Mantovani bersama penulis skenario Alim Sudio.
Sementara itu, Rizal Mantovani menjelaskan bahwa film Putri Jangan Gentayangan Lagi memadukan tragedi keluarga dengan unsur horor supranatural. Perpaduan tersebut menjadi pendekatan utama dalam membangun cerita yang memiliki karakter berbeda.
“Ceritanya mengenai tragedi keluarga digabungkan dengan supranatural dan dia diangkat dari kisah nyata ya. Jadi dia diangkat dari kombinasi itulah yang membuat kami merasa yang ditawarkan itu sebuah cerita yang khas,” kata Rizal.
Menurut Rizal, proses penyutradaraan dilakukan dengan menyeimbangkan sisi emosional dari kisah nyata keluarga dengan dramaturgi horor. Dengan begitu, unsur supranatural tidak hanya menjadi sumber ketegangan, tetapi juga mendukung penyampaian cerita.
Pesan edukasi yang diangkat film ini juga mendapat perhatian dari para pemain. Denisha Wahyuni, pemeran Alana, berharap film tersebut bisa menjadi bahan pembelajaran bagi para pelajar, terutama anak SMA yang masih berada dalam fase pencarian jati diri dan rentan mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.
“Jadi, semoga dari film ini, teman-teman semua juga bisa mengambil pelajaran. Jadi, untuk berhati-hati dalam melakukan sesuatu, karena bisa berdampak sangat panjang ke depannya, gitu,” kata Denisha.
Senada dengan Denisha, Fadi Alaydrus yang memerankan karakter Wira juga berharap film tersebut dapat membuka ruang edukasi mengenai hubungan remaja dengan lawan jenis.
Menurut Fadi, pesan semacam itu masih jarang diangkat melalui film horor Indonesia. Ia berharap kisah yang disajikan bisa menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran, terutama bagi remaja perempuan.
“Eh, dan pesannya setelah aku menonton film ini, aku mempunyai harapan semoga film horor ini juga bisa menjadi sarana edukasi di Indonesia, karena kita tahu betul jarang sekali ada tentang itu, dan mungkin dari sini bisa menjadi eh sarana masuk awalnya untuk eh apalagi untuk anak perempuan,” ujarnya.
Film Putri Jangan Gentayangan Lagi memiliki durasi 104 menit dan dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 5 November 2026.
Kisahnya diangkat dari tragedi yang dialami almarhumah Putri, yang sebelumnya menjadi perbincangan publik setelah diangkat dalam siniar Lentera Malam bersama Jamaluddin Darris. Kisah tersebut menarik perhatian luas dan telah ditonton lebih dari 25 juta kali melalui YouTube.
Melalui perpaduan horor supranatural dan kisah nyata, film ini diharapkan tidak hanya menghadirkan pengalaman menegangkan di bioskop, tetapi juga mengajak penonton memahami pentingnya peran keluarga, kehati-hatian dalam pergaulan, serta konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil.
