Dimas Aditya Ungkap Perjuangan Belajar Bahasa Isyarat hingga Pilih Hindari Adegan Action di Film Juminten Edan

Yuri Setiawan
4 Min Read

Jakartashowbiz.com – Aktor Dimas Aditya membagikan pengalaman menarik saat membintangi film Juminten Edan.

Dalam film garapan sutradara Dedi Mercy tersebut, ia memerankan karakter Manto, sosok pria penyayang yang harus memperjuangkan cintanya kepada Juminten meski mendapat penolakan dari keluarga.

Menurut Dimas, Manto merupakan anak seorang juragan yang memilih kawin lari bersama Juminten. Keputusan itu memicu berbagai konflik ketika mereka kembali ke kampung halaman.

“Karakter Manto sebenarnya penyayang. Dia juga memiliki rasa cinta yang besar kepada keluarga dan berusaha mempertahankan orang-orang yang dia sayangi,” ujar Dimas.

Baca juga: Tayang Mulai 25 Juni, Film Tanah Runtuh Ajak Melihat Dunia dengan Lebih Tenang dan Jujur Lewat Karakter Utamanya

Dedi Mercy Jadi Alasan Dimas Aditya Bergabung

Dimas mengaku menerima tawaran bermain di Juminten Edan karena tertarik bekerja sama dengan Dedi Mercy. Sebelumnya, ia sudah mengikuti sejumlah karya sang sutradara dan menilai Dedi memiliki visi yang kuat dalam membangun cerita.

Selain itu, Dedi juga memberi ruang bagi para pemain untuk mengeksplorasi karakter sehingga proses kreatif berjalan lebih nyaman.

“Pak Dedi memberikan kesempatan kepada aktor untuk mengembangkan karakter sesuai kebutuhan cerita. Menurut saya, kerja sama kami sangat solid,” katanya.

Batasi Adegan Action Demi Menjaga Kondisi Fisik

Meski trailer film menampilkan sejumlah adegan laga, Dimas menjelaskan bahwa porsi action karakter Manto tidak terlalu besar. Ia mengaku sengaja membatasi adegan berisiko karena ingin menjaga kondisi tubuh.

Menurut Dimas, saat ini ia lebih selektif menerima peran yang membutuhkan banyak aksi fisik. Jika sebuah adegan berpotensi membahayakan dirinya, ia akan meminta alternatif seperti penggunaan pemeran pengganti.

“Saya sekarang lebih memperhatikan treatment adegannya. Kalau memang terlalu berisiko, saya lebih memilih menggunakan stuntman,” ungkapnya.

Belajar Bahasa Isyarat Hanya Tiga Hari

Salah satu tantangan terbesar selama syuting datang menjelang produksi dimulai. Dimas harus mempelajari bahasa isyarat hanya dalam waktu tiga hari setelah sutradara mengubah konsep karakter Juminten.

Awalnya, ia tidak diwajibkan mempelajari bahasa isyarat karena karakter Juminten hanya mengalami gangguan bicara. Namun, Dedi Mercy kemudian memutuskan menambahkan unsur gangguan pendengaran sehingga komunikasi antarkarakter menggunakan bahasa isyarat.

“Tiga hari belajar. Mendadak, tapi akhirnya bisa mengikuti karena fokus ke dialog dan emosi adegan,” jelasnya.

Dimas mengatakan emosi yang terbangun saat pengambilan gambar justru membantunya mengingat gerakan bahasa isyarat dengan lebih alami. Pelatih bahasa isyarat di lokasi syuting juga menyatakan komunikasi yang ia tampilkan sudah sesuai kebutuhan adegan.

Bangun Chemistry dengan Meisya

Dimas juga berbagi pengalaman membangun chemistry dengan lawan mainnya, Meisya. Ia melihat aktris tersebut memiliki potensi besar, namun masih merasa canggung karena perbedaan jam terbang.

Karena itu, Dimas berusaha mencairkan suasana agar proses akting berjalan lebih natural tanpa memikirkan senioritas.

“Menurut saya, dia punya modal yang bagus. Tinggal menghilangkan rasa sungkan supaya lebih lepas saat bermain,” ujarnya.

Pengalaman Syuting Dekat Orang yang Dipasung

Hal lain yang membekas selama proses produksi adalah pengalaman syuting di lokasi yang berdekatan dengan seseorang yang dipasung. Hampir setiap malam, Dimas mendengar berbagai teriakan dari rumah tersebut.

Ia mengaku sempat terkejut karena awalnya mengira suara itu berasal dari orang yang sedang menonton pertandingan sepak bola.

“Ternyata dia menangis, marah, tertawa, sampai minta tolong. Saya lebih merasa sedih daripada takut melihat kondisi itu,” kata Dimas.

Menurutnya, pengalaman tersebut membuat isu pemasungan yang diangkat dalam Juminten Edan terasa relevan dengan kondisi yang masih terjadi di sejumlah daerah.

Selain menghadirkan kisah horor, Juminten Edan juga mengangkat persoalan sosial yang masih ditemukan di masyarakat, termasuk stigma terhadap gangguan kesehatan mental dan praktik pemasungan yang masih menjadi perhatian hingga kini.

Share This Article