Jakartashowbiz.com – Selebritas dunia, Paris Hilton mengungkap kondisi gangguan mental Rejection Sensitivity Dysphoria (RSD) yang dialaminya. Meski sempat terganggu dengan mengibaratkan adanya iblis dalam pikiran, dia lantas bersyukur kondisi tersebut lah yang dianggap membawanya di puncak kesuksesan sampai sekarang.
RSD sendiri merupakan respons emosional ekstrem terhadap kritik atau penolakan, baik yang nyata maupun yang hanya dirasakan. Paris Hilton mengungkap bahwa dirinya pertama kali didiagnosis mengalami attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) pada akhir usia menjelang 30 tahun, dan baru mengetahui juga memiliki RSD beberapa waktu setelahnya.
Baca juga: Rain Minta Maaf ke Penggemar yang Tak Ikuti Instruksinya saat Konser di Taiwan
Dalam wawancara di siniar The Him and Her Show milik Dear Media, Paris menjelaskan bahwa RSD membuat seseorang merasakan emosi negatif secara berlebihan. Sosialita berusia 44 tahun itu mengungkapkan bahwa terkadang, emosi negatif yang muncul berasal dari sesuatu yang belum tentu benar-benar ada.
“Pada dasarnya, setiap pikiran tentang persepsi negatif—ketika kamu merasa seseorang bersikap kasar atau kamu merasakan sesuatu—rasanya seperti sakit fisik, padahal itu belum tentu nyata,” ujarnya.
“Hampir seperti ada iblis di dalam pikiran yang terus berbicara negatif tentang dirimu sendiri,” tambahnya kemudian.

Sumber medis menyebut jika ADHD yang diidap Paris Hilton di masa muda punya keterkaitan erat dengan diagnosis RSD yang kini dialami. Paris Hilton menyebut bahwa orang dengan kondisi tersebut bisa merasakan emosi negatif pada tingkat yang sangat dalam, sehingga harus belajar mengenali kapan perasaan tersebut muncul akibat RSD.
“Saya telah melalui begitu banyak hal dalam hidup saya, terutama di era 2000-an, termasuk tekanan dari media,” katanya.
Baca juga: Bikin Heboh, Prilly Latuconsina Cari Kerja di LinkedIn Usai Keluar dari Sinemaku Pictures
Pengalaman itu mendorongnya untuk terus mempelajari RSD dan menyebarkan kesadaran tentang kondisi tersebut ke khalayak luas. Menurut Paris, RSD tidak harus menjadi penghambat dalam hidup, tetapi justru dapat dimanfaatkan sebagai kekuatan meski memiliki sisi sulit yang melelahkan mental.
“Saya melihat ini sebagai kekuatan super saya. Saya tidak akan menjadi pengusaha seperti sekarang tanpa itu,” ujarnya.